Me, Mine, & Mind. The Dropping Zone.

Journal

Blog EntrySensitive Doer (SD) - Personality?Jul 28, '08 11:09 PM
for everyone
http://www.ipersonic.com/test.html
http://www.ipersonic.com/type/SD.html

Sensitive Doers are gentle, modest and reserved persons. They cope well with everyday life and like their privacy. With their quiet, optimistic nature, they are also good, sought-after listeners and other people feel well in their company. All in all, this type is the most likeable and friendliest of all personality types. Tolerance and heir regard for others distinguish their personality. They are very caring, generous and always willing to help. They are open to and interested in everything that is new or unknown to them. However, if their inner value system or their sense of justice is hurt, Sensitive Doers can suddenly and surprisingly become forceful and assertive.

Sensitive Doers enjoy the comforts life offers to the full. They are very happy in everyday life. Sensitive Doers are often gifted artists or very good craftsmen. Creativity, imagination and an especially keen perception are just a few of their strong points. Sensitive Doers are very presence-oriented; long-term planning and preparations do not appeal to them. They take life as it comes and react flexibly to daily demands. They do not like too much routine and predictability. Their talents come more to the fore when work processes are variable and there are not so many rules. Sensitive Doers like to work alone; if they are part of a team, they do not get involved in competitive or power games and prefer living and working together harmoniously and openly.

Sensitive Doers are completely satisfied with a small, close circle of friends as their need for social contacts is not very marked. Here, too, they avoid conflicts - quarrels and disputes put considerable strain on them. Sensitive Doers are often very fond of animals and are very good with small children. As partner, this type is loyal and reliable and is willing to invest a lot in a relationship. Mutual respect and tolerance are very important to Sensitive Doers. Their love of pleasure makes them a pleasant companion with whom one can experience intensive moments. They like to look after their partner with attentiveness and small gifts and are very sensitive to the partner’s needs - often more than to their own. However, should they meet the wrong person, they run the risk of being taken advantage of. They are then deeply disappointed.

Adjectives which describe your type
introverted, practical, emotional, spontaneous, sensitive, peace-loving, reserved, gentle, good-natured, independent, empathetic, friendly, playful, carefree, sympathetic, relaxed, quiet, modest, pleasure-loving, loyal, obliging, caring, helpful, optimistic

These subjects could interest you
art, music, craftwork, garden work, animals, nature, literature, drawing/painting, astrology, spiritual things, meditation, music, handicrafts, writing

Wah apa benar profil saya seperti itu? Masalahnya dalam pilihan jawaban dalam suatu pertanyaan, saya harus memilih satu jawaban saja padahal ada beberapa poin yang ada di jawaban lain.

Adjective di atas memang ada pada saya, tetapi bukan hanya itu.
Subject yang ditulis memang menarik bagi saya (drawing/painting, music, dll) tetapi saya juga suka yang lain (matematika, dll).

Atau ini ya?

Reliable Realist (RR)

Reliable Realists are down-to-earth and responsible-minded. They are precise, reserved and demanding. Their most prominent quality is reliability and they will always make every effort to keep any promise given. Reliable Realists are more quiet and serious persons, they do not talk a lot but they are good listeners. They sometimes seem reserved and distant to outsiders although they often have a great deal of wit and esprit. Their strong points are thoroughness, a marked sense of justice, doggedness bordering on pigheadedness and a pragmatic, vigorous and purposeful manner. Reliable Realists do not dither about if something has to be done. They do what is necessary without wasting words.

This personality type not only expects a lot of himself but also of others. Once Reliable Realists have set their mind on something, it is difficult to persuade them otherwise. They do not like to leave anything to chance. Planning means safety to Reliable Realists, as well as order and discipline. They have no problem respecting authorities and hierarchies but do not like to delegate tasks. They are certain that others would not deal with them as conscientiously as they do. In management positions, they are very task-oriented - they make sure that things are well done; however, they do not have a great deal of interest in personal contacts at work.

In relationships too, Reliable Realists are reliability itself. As partners, they are faithful and consistent, well-balanced and sensible. Security and stability are very important to them. They have little time for extravagances and flightiness. Whoever has them as friend or partner can rely on them for a lifetime. However, it takes quite a while for Reliable Realists to enter into a relationship or friendship. They have little need for social contacts; they therefore take great care when choosing partners and friends and limit themselves to a small but exclusive circle which meets their high demands. They tend to show their closeness to people who are important to them by deeds - their partner should rather not expect romantic declarations of love.

Adjectives which describe your type
introverted, practical, logical, planning, tradition-conscious, organised, persistent, objective, tidy, conscientious, cautious, loyal, peace-loving, sensible, down-to-earth, responsible-minded, reserved, careful, independent, punctual, precise, demanding, ability to concentrate, trustworthy, pedantic, reliable, persevering

These subjects could interest you
literature, technical activities (model-making), voluntary work, music, trekking, camping, hiking, cooking, drawing/painting, handicraft work, writing, strategy games, politics


Bingung-bingung deh! :)


Drawing Personality Test



The results of your analysis say:

You tend to pursue many different activities simultaneously. When misfortune does happen, it doesn't actually dishearten you all that much.

You are a thoughtful and cautious person. You like to think about your method, seeking to pursue your goal in the most effective way.

You are creative, mentally active and industrious.

You have a sunny, cheerful disposition.

What do your drawings say about your personality? Find out here.

Setelah lihat jurnalnya teh Dewi di situ. Jadi iseng pengen tahu nih.

Blog EntryMemilih SahabatJul 7, '08 12:07 AM
for everyone
Dokumen lama saya yang pernah ditempatkan di site lain, tetapi site itu seperti menelan tulisan ini.
Saya tempatkan lagi di sini agar tetap terjaga keberadaannya, agar dapat dibaca lebih banyak orang dalam jangka waktu yang lebih lama.

Selamat membaca.

MEMILIH SAHABAT

Prof. DR. M. Quraish Shihab. Lentera Hati, MetroTV. 3 Oktober 2004

Disusun oleh
Teguh Sudibyantoro <teguh.sudibyantoro@gmail.com>
Dan
Arief Wiryanto <ariefwiryanto@gmail.com> http://ariefhikmah.blogdrive.com

[Moderator]:
Boleh sedikit saya berpendapat : Ada beberapa lingkungan yg sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang pertama, yg paling dekat dgn kita adalah keluarga atau di rumah. Yang tidak kalah pentingnya adalah lingkungan di luar rumah yaitu di sekolah, teman, atau yg palng dekat dgn kita adalah sahabat. Pada saat ini kita akan membicarakan bagaimana caramemilih sahabat yg baik.

[Pak Quraish]:
Saya ingin tanya dulu. Yang mana lebih disuka, saudaranya atau sahabatnya? [Saudaranya, jawab yang hadir]. Yang lain bagaimana? [Kadang-kadang dgn sahabat, kita lebih bisa curhat, jawab yang hadir]. Itu kalau mau jawaban yg lebih tepat. Kalau memang mau berkata saudara, katakan : saya suka saudara saya kalau dia menjadi sahabat saya. Kalau saudara kita tidak menjadi sahabat, kita lebih suka sahabat daripada saudara, ya kan ?

Sahabat itu apa tho ? Kalau kita buka kamus besar bahasa Indonesia, sahabat itu diartikan teman. Ada juga dikatakan “sahabat kental”. Apa bedanya “teman” dan “sahabat kental” ? Si A adalah teman saya ke sekolah. Si A menemani saya ke pasar. Belum tentu dia sahabat kental saya. Kalau sahabat kental adalah orang yg begitu dekat kepada saya, yg boleh jadi tingkatnya sampai pada tingkat bahwa saya memberitahu rahasia saya.

Nah remaja-remaja ini punya teman-teman, kan ? Apakah semua diberitahu isi hati kita ? Tidak. Itu ada tingkat-tingkatnya. Ada teman yg kita beritahu rahasia-rahasia kita seperti pacar. Ada juga teman akrab tetapi tidak diberitahu rahasia kita. Ada juga kita bersama-sama dgn dia, kita boleh jadi ada kerja sama tetapi hati kurang cocok. Sahabat itu bertingkat-tingkat. Ada lagi yang saya kenal tetapi saya tidak mau duduk dengan dia, tidak cocok rasanya, saya ngomong gini dia ngomong ke sana. Itu semua bisa dinamai teman. Tetapi dalam istilah bahasa Indonesia, teman yg sangat dekat kita namakan itu sahabat kental.

Kalau kita merujuk pada kitab suci Al Qur’an. Istilah yg digunakan tentang teman/sahabat itu bermacam-macam. Ada “shohib” yg dalam bahasa Indonesia menjadi “sahabat”, itu boleh jadi shohib ini tidak seide dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat dalam perjalanan.

Ada lagi yg lebih tinggi, AlQur’an menamainya “shodiq” dari kata “Shidq”. “Shiddq” itu artinya “benar”, “jujur”. Naa, sahabat yg baik itu, yg lebih tinggi, adalah yg berkata jujur pada anda, yg sikapnya selalu benar pada anda. Itu bagus, lebih bagus daripada sekedar menemani.

Ada yg lebih tinggi lagi. Diistilahkan dgn “kholil”. “Kholil” itu terambil dari akar kata bermakna “celah”. Orang yg begitu dekat dgn anda, yg pertemanannya, yg persahabatannya, yg kasih sayangnya, masuk ke celah-celah qalbu anda. Itu dinamai “kholil”. Ada ndak yg begitu ? Perasaannya sudah sehati. Ketika Anda sakit dia ikut merasakan sakit.

Nah itu yg digambarkan bahwa sahabat kental itu adalah yg “dia adalah aku”. Nah saya beri contoh. Pernah lihat di cermin ? Siapa yg dilihat di cermin ? Diri sendiri. Itulah kholil. Itu yg persis sama dgn anda. Apakah susah mendapat yg seperti itu ? Tapi itu boleh jadi ada. Kalau dalam sejarah Islam itu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu waktu ada orang berkata, “Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala negara, apa kamu wahai Abu Bakar atau Umar ?”. Abu Bakar menjawab, “Saya tetapi dia”. Kan itu sama.

Sahabat bisa mempengaruhi kita. Karena itu katanya, pandai-pandailah memilih sahabat. Bukan teman, ya ? Bukan kenalan, ya ? Saya, kalau tidak kenal anda, saya bisa kenal anda dengan bertanya “siapa sahabatnya ?”. Karena sahabat itu cermin. Dalam kata-kata bersayap, “menyangkut seseorang, jangan tanya siapa dia, tetapi carilah siapa sahabatnya”, karena sahabat itu cermin dari orang itu. Kalau sahabatnya baik, dia jadi baik. Kalau sahabatnya jelek, dia pasti terpengaruh jadi jelek juga. Jadi harus pandai-pandai memilih sahabat kita karena dia bisa mempengaruhi kita.

Naa saya beri contoh. Ini contoh dari nabi. Kalau anda bersahabat dgn penjual parfum / minyak wangi, bagaimana kira-kira ? Dikasih minyak wanginya atau paling tidak aromanya. Kalo berteman dgn tukang las, bajunya terbakar atau paling tidak aromanya.

Dalam AlQuran ada kata shodiq, shohib, kholil, ada lagi kata bithonah. Bithonah itu adalah orang yg kita beritahu rahasia kita. Ada lahir ada batin. Bathin itu apa artinya ? Bithonah berasal dari kata bathin, yg berarti dia tahu batin kita. Ada waliy yg artinya adalah orang yg mendekat. Kalo Allah berfirman, “Inamal waliyukumullahu wa rosuluhu walladzina amanu, alladzina yu’tuna zakata…”. Orang yg beriman itu “waliy”-nya, teman akrabnya adalah Allah, Rosul, dan orang-orang beriman. Itu temannya. Supaya dia terpengaruh dgn temannya.

Kita lihat lebih jauh. Sekarang kalau mau bersahabat -dalam pengertian bahasa Indonesia- apa sih tujuannya bersahabat ? Atau sebelum itu, perlu ndak kita bersahabat ? Perlu. Kenapa perlu ? Karena kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita. Jadi kita terpaksa, “tolong dong”. Yang kedua, hidup ini bisa senang bisa susah. Kalo senang sendiri, enak ndak ? [Tidak]. Naa perlu ada sahabat dong. Semakin banyak orang yg bergembira, semakin besar kegembiraan itu. Pernah sedih. Perlu ndak ada orang yg menghibur kesedihan kita ?
[Perlu]. Aaa kalau begitu kita perlu sahabat. Tapi jangan cari sahabat yg hanya waktu anda senang dia mau jadi sahabat. Ada kan yg begitu ? [Ada]. Cari sahabat yg bisa menemani anda pada waktu senang dan pada waktu susah.

Kita lihat lebih jauh. Kenapa bersahabat ? Ini macam-macam tujuannya. Ada orang bersahabat karena ada kesenangan. Ooo saya bersahabat dgn si A karena dia pandai main basket atau main bola. Sama-sama senang main bola. Ooo ini tujuan bersahabatnya hanya mau senang-senang. Ada lagi orang bersahabat karena ada kepentingan. Katanya, sebagian politisi begitu. Ada maunya saja. Karena itu mereka berkata bahwa tidak ada sahabat abadi dan tidak ada musuh abadi. Karena saya punya kepentingan maka kita bekerja sama sekarang. Besok jika tidak ada kepentingan, tidak akan bekerja sama.

Kalau mau bersahabat yg benar, carilah orang yg terus menerus bersama anda memberi manfaat sampai di hari kemudian. Karena Al Qur’an berkata, “Al akhilahu yaumaidzin ba’duhum li ba’din alu ilal muttaqin”, sahabat yg sekental apa pun yg sudah masuk kecintaannya ke relung-relung qalbunya itu pada hari kemudian akan jadi bermusuhan kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.

Nah sekarang bagaimana kita cari sahabat ? Dulu Lukmanul Hakim, disebutkan dalam Al Qur’an, pernah menasehati anaknya, “Nak, kalau kamu mau cari sahabat, bikin dia marah terlebih dahulu”, kaget kan ? “Baru lihat, kalau dia tanggapannya itu adil, wajar, tidak berlebih-lebihan, nah itu bisa dijadikan sahabat”. Kalau baru sedikit sudah marah, sudah memaki, wah harus berhati-hati. Kita kan bisa salah. Begitu kita salah lantas dia marah luar biasa. Wah ini tidak bisa menjadi sahabat. Itu nasehatnya Lukmanul Hakim.

Ada yg lain. Merujuk kepada hadist-hadist nabi. Kalau mau cari sahabat, pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada keluarganya & orang tuanya atau tidak. Kalau anak itu durhaka jangan jadikan dia sahabat. Kedua,lihat bagaimana sikapnya terhadap materi. Ooo ini dia baru mau kenal dgn saya kalau saya belikan dia es krim. Kalau tidak dibelikan es krim, dia tidak mau berteman. Ooo ini tidak bisa jadi teman dong. Lihat juga bagaimana sikapnya tentang kedudukan, dan lain sebagainya.

Kemudian, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Ooo dia itu main melulu tidak pernah belajar. Apakah bisa dijadikan sahabat atau tidak ? [Tidak bisa]. Ooo dia itu tidak sholat, dia itu tidak beragama dgn baik. Lihat kegiatannya sehari-hari. Lihat bagaimana dia kalau anda salah. Dia nasehati anda, dia betulkan anda, atau tidak. Aaa kalau ada yg meninggalkan anda, itu tidak bisa menjadi sahabat.

Dan lihat keakrabannya dgn anda. Dikatakan, tidak mungkin terjalin persahabatan antara satu penguasa dgn rakyat jelata walau pun sebelumnya dia berteman, kalau orang yg berkuasa ini merasa dirinya terlalu tinggi sehingga kalau ditegur dia marah. Bisa kan? Contoh, oo tadinya dia teman saya, tapi begitu dia menjadi ketua OSIS, dia sudah merasa gede, sombong, itu tidak bisa terjalin persahabatan. Tidak juga bisa terjalin persahabatan kalau anda merasa minder. Ooo dia ini sudah terlalu tinggi nih sehingga saya sudah tidak bisa menegur.

Persahabatan itu harus seimbang. Kita sama. Walaupun kamu kaya saya miskin,kamu gagah saya tidak tampan, tapi kita kan sama-sama manusia. Itu bisa terjalin persahabatan. Jadi kalau ada keangkuhan, tidak akan terjadi persahabatan.

Itu tuntunannya. Jadi pilih-pilih. Lihat itu. Sebab kalau tidak, pasti dipengaruhi. Kita tidak bisa bertahan itu.

Sekarang, anda sudah punya sahabat. Bagaimana memelihara itu persahabatan itu ? Itu tidak gampang memelihara persahabatan. Ada orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan. Nah ada tuntunan agama bagaimana seseorang memelihara persahabatan. Dan kalau saya berbicara tentang persahabatan ini, itu bukan hanya antar anak-anak. Orang tua pun termasuk.

Yang pertama, dikatakan, jangan mencampurbaurkan antara serius dan canda. Biasa serius, dianggap bercanda. Biasa bercanda, dianggap serius. Itu kalau campurbaur, putus itu persahabatan. “Saya kan main-main nih, main-main maki anda, terus anda anggap serius”. [Diambil hati terus tersinggung]. Tersinggung kan ? Lha ini orang main-main saja. Anda tidak bisa memelihara persahabatan kalau mencampurbaurkan itu.

Yang kedua, biasa sahabat kita itu bisa bercanda, bisa juga serius dia marah. Kalau mau pelihara persahabatan, jangan jawab marahnya atau makiannya itu dgn makian yg serupa. Tapi bisa menjawabnya dgn bercanda kepadanya. Dalam hubungan suami istri misalnya kalau istri marah jangan ikut marah tetapi peluk dia, cium dia, nanti ndak jadi marah. Jadi jangan dijawab dgn marah. Itu terpelihara. Ooo dia marah, dijawab dgn canda dgn muka ceria. Jadi harus ada satu yg mengalah.

Yang ketiga. Jangan sekali-kali berkata kepada teman anda, “Kamu bodoh”. Dan jangan juga kalau dia memberi saran pada anda dan ternyata sarannya keliru terus berkata, “Ini gara-gara kamu nih”. Biasa begitu ? Itu tidak terpelihara. Jangan juga berkata kalau anda beri saran pada dia lantas saran anda bagus, “Itu kan karena saya”. Itu tidak terpelihara persahabatan.

Harus pandai mendengar. Kalau sahabat anda itu menyampaikan joke / cerita lucu dan anda sudah tahu, bagaimana caranya ? Jangan bilang, “Stop, itu saya sudah tahu tuh”. Tidak bisa begitu. Terus saja mendengarkan. Ikut tertawa. Menjadi pendengar yg baik. Kalau tidak pandai mendengar, persahabatan tidak akan langgeng.

Jangan sekali-kali, menampakkan jasa anda kepada sahabat. Karena itu menjadikan paling tidak dia rendah diri. Kalau sudah berbeda, ada satu yg rendah diri, satu tinggi hati, tidak terjadi persahabatan yg tulus. Ya kan ?

Kalau sahabat anda senang, ikutlah senang. Itu adalah kewajiban bersahabatan. Kalau dia susah, ikut susah, yg demikian lebih wajib. Jadi jangan sekali-kali menampakkan kesedihan waktu dia senang. Jangan juga menampakkan rasa senang waktu dia sedih. Itu baru anda bersahabat. Ini lagi susah, eh datang bercanda.

Persahabatan ini baru bisa langgeng sampai hari kemudian kalau sesuai dengan tuntunan agama. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi Tuhan salah satu di antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.

[moderator]:
Bagaimana pendapat bapak tentang persahabatan antara dua orang yg sudah tidak ada saling ketersinggungan dalam arti bercanda secara kasar tidak merasa tersinggung. Itu bagaimana ?

[Jawab]:
Saya kira itu bisa saja ada. Tetapi sekali-sekali, bisa juga ada rasa tersinggung. Jadi sebenarnya kita harus tetap menjaga. Bisa saja ada situasi yg membuat marah lantas putus. Jadi betapa pun, bercanda jangan berlebihan. Kalau serius, kita serius. Kalau bercanda, kita bercanda, tapi jangan berlebihan. Kalau bercanda dan dia tidak tersinggung, memang seharusnya begitu. Seperti panduan pertama, jangan campurkan antara bercanda dan serius.

[Tanya]:
Curhat. Sebatas mana dalam Islam dalam hal yg disampaikan. Mungkin kita menyadari agak sulit sekali untuk mencari sahabat sejati. Kita khawatir isi hati, rahasia sudah disampaikan, satu saat kita pecah misalnya, kita berpisah dan dia benci sama kita sehingga rahasia kita dibeberkan. Batasan-batasan dalam Islam itu sebatas mana rahasia kita bisa diungkapkan kepada orang lain.

[Jawab]:
Yang pertama dulu, jangan curahkan semua rahasia anda kepada orang yg anda tidak percaya. Itu sebabnya di dalam Al Qur’an dikatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran : 118). Bukan karena dia berlainan agama atau berlainan bangsa dgn anda. Tetapi karena orang itu -yg Allah larang sebagai tempat curhat- tidak segan-segan terus-menerus akan mencari keburukan kamu. Sudah jelas kebenciannya kepada kamu. Dari ucapan-ucapannya. Jangan sampaikan kepadanya.

Tetapi kalau anda yakin bahwa orang ini jujur, bisa dipercaya, dan beragama maka silakan curhat. Silakan sampaikan rahasia. Tapi syaratnya itu tadi. Dia orang yg terpercaya agamanya, dll.

Dan kalau dia terpercaya agamanya, tidak mungkin ia mengkhianati anda. Itu sebabnya juga yang paling banyak tahu kita itu, kalau dalam kehidupan suami istri, kan suami yg paling tahu istrinya dan istri yg paling tahu suaminya. Kalau terjadi perceraian, kalau dia beragama (istri / suami) maka dia tidak akan beberkan keburukan suaminya/istrinya.

Jadi curhatlah kepada orang yg anda percaya. Dan sebelum sampai pada tingkat percaya itu ada proses. Sebelum bersahabat kan berkenalan dahulu. Setelah berkenalan ya berteman. Setelah berteman, teruji menjadi shodiq. Setelah shodiq menjadi khalil. Istilah lain selain itu di Quran adalah qorin. Teman yg selalu di mana-mana curhat-curhatan. Jadi bertingkat-tingkat.

[Tanya]:
Anak kecil bernama Gelar. Ada satu orang anak merasa cocok dgn anak yg lain. Mereka sudah bersama, selalu bareng, sudah dianggap sebagai sahabat. Tetapi mereka berdua itu berlainan agama. Itu bagaimana ?

[Jawab]:
Bagus ni pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada halangan dalam ajaran Islam dalam bersahabat dengan siapa pun. Bahkan, kalau kita baca dalam Al Qur’an dalam masalah sahabat ini, ada perintah Allah di surah An Nisa, “Wa’budullah wala tusyriku bihi syai’an wabil walidaini ihsana….. wa shohibi bil jambi”. Kita disuruh berbuat baik kepada teman yg berdekatan dgn kita. Yang berdekatan ini boleh jadi yg berdekatan rumahnya, boleh jadi berdekatan sama-sama dalam perjalanan, dll. Tidak ada halangan untuk bersahabat. Tapi ingat, masing-masing harus saling menghormati, harus saling menjaga perasaan, masing-masing harus menjalankan agamanya dgn baik. Jangan sampai ada sifat-sifat buruknya mempengaruhi kita, itu yg terlarang. Karena itu tidak terlarang tetapi sebelum itu, sebelum akrab, yakinlah bahwa dia memberikan manfaat buat saya. Ooo saya bersahabat mau belajar bersama, boleh-boleh aja. Saya bersahabat mau pergi menonton bersama, boleh-boleh aja. Walaupun berlainan agama, berlainan bangsa, berlainan suku, selama tujuannya itu baik dan benar. Boleh saja. Saya juga punya banyak sahabat non muslim.

[Tanya]:
Katanya, kalau terlalu akrab dengan teman itu suka kalau ada gesekan sedikit, susah kembalinya. Apakah itu betul, pak?

[Jawab]:
Itu betul, kalau yg bersangkutan tidak memperhatikan syarat-syarat bagi pemeliharaan persahabatan. Ini tadi, akrab sekali tetapi canda dijadikan serius. Akrab sekali sampai tidak segan-segan berkata “kamu bodoh” di depan orang. Padahal untuk memelihara persahabatan tetap harus dijaga perasaan. Karena itu pula ada pesan bahwa semua yg melampaui batas itu buruk. “Khairul ummur al washad”. Saya mau beri contoh. Berwudhu itu berapa kali? Tiga-tiga kali. Kalau misalnya ada air sungai, boleh ndak berwudhu empat-empat kali? Airnya ndak habis-habis nih. Tidak boleh juga. Yang berlebih-lebihan itu buruk. Bercanda jangan berlebih-lebihan. Naa, bersahabat, bercinta, jangan juga berlebih-lebihan. Cintai kekasihmu sewajarnya, karena apa? Boleh jadi ia menjadi lawanmu suatu waktu. Musuhi musuhmu sewajarnya, boleh jadi ia menjadi sahabatmu suatu waktu. Moderasi itu, pertengahan itu adalah yg baik. Semua yg ditengah, dala, hal ini baik. Boros jelek, pelit juga jelek. Ceroboh jelek,penakut jelek, nah di tengahnya itu adalah berani.

[Moderator]:
Pak Quraish, sedikit, ada beberapa pendapat bahwa ada pantangan berbisnis bersama sahabat karena aslinya ketahuan karena itu menyangkut materi.

[Jawab]:
Na kalau menyangkut materi ya begitu itu. Itu bisa saja terjadi. Karena persahabatannya bukan didasari keikhlasan, bukan didasari kepentingan yg lebih besar, tetapi didasari oleh keuntungan. Tapi kalau dia bersahabat secara tulus, boleh jadi dia justru memberikan sebagian keuntungannya untuk yg bersangkutan. Nah itu sahabat yg benar.

[Kesimpulan]:
Kalau kita mau pilih sahabat, saya ingin katakan, pandai-pandailah memilih sahabat. Carilah sahabat yg bisa memberi manfaat pada anda sebanyak mungkin dan selanggeng mungkin. Kemudian, pandai-pandailah memelihara sahabat. Banyak orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan itu. Nah persahabatan yg langgeng itu adalah yg didasari oleh kepentingan yg langgeng pula bukan kepentingan sementara. Dan kepentingan yg langgeng itu tidak ada kecuali yg berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Mau materi, ga langgeng. Mau cinta/senang karena dia cantik, ga langgeng, karena kalo sudah tua jadi jelek tho.

[moderator]:
Mudah-mudahan buat kita semua yg ada di sini dan juga pemirsa di rumah bisa mendapatkan sahabat yg baik dan berpengaruh baik terutama untuk kita.








Blog EntryTAKDIRJul 6, '08 11:41 PM
for everyone
Sering pertanyaan muncul, apakah kita ini sudah ditentukan nasibnya ataukah kita yang harus mengubah nasib kita sendiri. Artikel di bawah ini menarik perhatian saya. Semoga bermanfaat juga bagi semuanya. Amin!


Oleh: Dr. M. Quraish Shihab


Ketika Mu’awiyah ibn Abi Sufyan menggantikan Khalifah IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah ibn Syu’bah menanyakan, “Apakah doa yang dibaca Nabi setiap selesai shalat?” Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah,

“Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari).

Doa ini dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun. Kebijakan mempopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai “bertujuan politis,” karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah. Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam (hlm- 203).


Tentu saja, pandangan tersebut tidak diterima oleh kebanyakan ulama. Ada yang demikian menggebu menolaknya sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir). Manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu? Bukankah Allah sendiri menegaskan,

“Siapa yang hendak beriman silakan beriman, siapa yang hendak kufur silakan juga kufur” (QS Al-Kahf [18]: 29).

Masing-masing bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri-sendiri. Namun demikian, pandangan ini juga disanggah. Ini mengurangi kebesaran dan kekuasaan Allah. Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah

“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan” (QS Al-Shaffat [37]: 96).

Tidakkah ayat ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian mereka berargumentasi. Selanjutnya bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,

“Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapatterlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua” (QS Al-Insan [76]: 30).

Demikian sedikit dari banyak perdebatan yang tak kunjung habis di antara para teolog. Masing-masing menjadikan Al-Quran sebagai pegangannya, seperti banyak orang yang mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri tidak mengenal mereka.

Kemudian didukung oleh penguasa yang ingin mempertahankan kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam berbagai bidang, meluaslah paham takdir dalam arti kedua di atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya.

Yang jelas, Nabi dan sahabat-sahabat utama beliau, tidak pernah mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para teolog itu. Mereka sepenuhnya yakin tentang takdir Allah yang menyentuh semua makhluk termasuk manusia, tetapi sedikit pun keyakinan ini tidak menghalangi mereka menyingsingkan lengan baju, berjuang, dan kalau kalah sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada Allah. Sikap Nabi dan para sahabat tersebut lahir, karena mereka tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat demi ayat, atau sepotong-sepotong terlepas dari konteksnya, tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Takdir dalam Bahasa Al-Quran

Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, “Allah telah menakdirkan demikian,” maka itu berarti, “Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya.”

Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A’la (Sabihisma),

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)” (QS Al-A’la [87]: 1-3).

Karena itu ditegaskannya bahwa:
“Dan matahari beredar di tempat peredarannya Demikian itulah takdir yang ditentukan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui” (QS Ya Sin [36]: 38).

Demikian pula bulan, seperti firman-Nya sesudah ayat di atas:

“Dan telah Kami takdirkan/tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua” (QS Ya Sin [36]: 39)

Bahkan segala sesuatu ada takdir atau ketetapan Tuhan atasnya,

“Dia (Allah) Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurna-sempurnanya” (QS Al-Furqan [25]: 2).

“Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kamilah khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran tertentu” (QS Al-Hijr [15]: 21).

Makhluk-Nya yang kecil dan remeh pun diberi-Nya takdir. Lanjutan ayat Sabihisma yang dikutip di atas menyebut contoh, yakni rerumputan.

“Dia Allah yang menjadikan rumput-rumputan, lalu dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman” (QS Sabihisma [87]: 4-53)

Mengapa rerumputan itu tumbuh subur, dan mengapa pula ia layu dan kering. Berapa kadar kesuburan dan kekeringannya, kesemuanya telah ditetapkan oleh Allah Swt., melalui hukum-hukum-Nya yang berlaku pada alam raya ini. Ini berarti jika Anda ingin melihat rumput subur menghijau, maka siramilah ia, dan bila Anda membiarkannya tanpa pemeliharaan, diterpa panas matahari yang terik, maka pasti ia akan mati kering kehitam-hitaman atau ghutsan ahwa seperti bunyi ayat di atas. Demikian takdir Allah menjangkau seluruh makhluk-Nya. Walhasil,

“Allah telah menetapkan bagi segala sesuatu kadarnya” (QS Al-Thalaq [65]: 3)

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut “hukum-hukum alam.”

Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan sunnatullah dengan takdir. Karena sunnatullah yang digunakan oleh Al-Quran adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang pasti berlaku bagi masyarakat, sedang takdir mencakup hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum-hukum alam. Dalam Al-Quran “sunnatullah” terulang sebanyak delapan kali, “sunnatina” sekali, “sunnatul awwalin” terulang tiga kali; kesemuanya mengacu kepada hukum-hukum Tuhan yang berlaku pada masyarakat. Baca misalnya QS Al-Ahzab (33): 38, 62 atau Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain.

Matahari, bulan, dan seluruh jagat raya telah ditetapkan oleh Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar,

“Datanglah (hai langit dan bumi) menurut perintah-Ku, suka atau tidak suka!” Keduanya berkata, “Kami datang dengar penuh ketaatan.”

Demikian surat Fushshilat (41) ayat 11 melukiskan “keniscayaan takdir dan ketiadaan pilihan bagi jagat raya.”

Apakah demikian juga yang berlaku bagi manusia? Tampaknya tidak sepenuhnya sama.

Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya, kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan satu alat, namun akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui. Di sisi lain, manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah mempunyai kadar dan ukuran tertentu. Hanya saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang ditetapkan Tuhan terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin; itu takdir Tuhan -manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya ilham atau petunjuk Ilahi. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:

“Wahai Allah, jangan engkau biarkan aku sendiri (dengan pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap.”

Ketika di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khaththab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya:

“Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?”

Umar r.a. menjawab,

“Saya lari/menghindar dan takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain.”

Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih? Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena yang positif pun takdir. Yang demikian merupakan sikap ‘tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,’ “… dan kamu harus percaya kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.” Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.

Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman?

Perlu digarisbawahi bahwa dari sudut pandang studi Al-Quran, kewajiban mempercayai adanya takdir tidak secara otomatis menyatakannya sebagai satu di antara rukun iman yang enam. Al-Quran tidak menggunakan istilah “rukun” untuk takdir, bahkan tidak juga Nabi Saw. dalam hadis-hadis beliau. Memang, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh banyak pakar hadis, melalui sahabat Nabi Umar ibn Al-Khaththab, dinyatakan bahwa suatu ketika datang seseorang yang berpakaian sangat putih, berambut hitam teratur, tetapi tidak tampak pada penampilannya bahwa ia seorang pendatang, namun, “tidak seorang pun di antara kami mengenalnya.” Demikian Umar r.a. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan saat kiamat serta tanda-tandanya. Nabi menjawab antara lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul- rasulNya, hari kemudian, dan “percaya tentang takdir-Nya yang baik dan yang buruk.” Setelah sang penanya pergi, Nabi menjelaskan bahwa,

“Dia itu Jibril, datang untuk mengajar kamu, agama kamu.”

Dari hadis ini, banyak ulama merumuskan enam rukun Iman tersebut.

Seperti dikemukan di atas, Al-Quran tidak menggunakan kata rukun, bahkan Al-Quran tidak pernah menyebut kata takdir dalam satu rangkaian ayat yang berbicara tentang kelima perkara lain di atas. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2): 285,

“Rasul percaya tentang apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang Mukmin. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian.”

Dalam QS Al-Nisa’ (4): 136 disebutkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, (tetaplah) percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang disusunkan sebelum (Al-Quran). Barangsiapa yang tidak percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudiam, maka sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya.”

Bahwa kedua ayat di atas tidak menyebutkan perkara takdir, bukan berarti bahwa takdir tidak wajib dipercayai. Tidak! Yang ingin dikemukakan ialah bahwa Al-Quran tidak menyebutnya sebagai rukun, tidak pula merangkaikannya dengan kelima perkara lain yang disebut dalam hadis Jibril di atas. Karena itu, agaknya dapat dimengerti ketika sementara ulama tidak menjadikan takdir sebagai salah satu rukun iman, bahkan dapat dimengerti jika sementara mereka hanya menyebut tiga hal pokok, yaitu keimanan kepada Allah, malaikat, dan hari kemudian. Bagi penganut pendapat ini, keimanan kepada malaikat mencakup keimanan tentang apa yang mereka sampaikan (wahyu Ilahi), dan kepada siapa disampaikan, yakni para Nabi dan Rasul.

Bahkan jika kita memperhatikan beberapa hadis Nabi, seringkali beliau hanya menyebut dua perkara, yaitu percaya kepada Allah dan hari kemudian.

“Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tamunya. Siapa yangpercaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menyambung tali kerabatnya. Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata benar atau diam.”

Demikian salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah.

Al-Quran juga tidak jarang hanya menyebut dua di antara hal-hal yang wajib dipercayai. Perhatikan misalnya surat Al-Baqarah (2): 62,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih.”

Ayat ini tidak berarti bahwa yang dituntut dari semua kelompok yang disebut di atas hanyalah iman kepada Allah dan hari kemudian, tetapi bersama keduanya adalah iman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir. Bahkan ayat tersebut dan semacamnya hanya menyebut dua hal pokok, tetapi tetap menuntut keimanan menyangkut segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., baik dalam enam perkara yang disebut oleh hadis Jibril di atas, maupun perkara lainnya yang tidak disebutkan.

Demikianlah pengertian takdir dalam bahasa dan penggunaan Al-Quran.

_____________________________

WAWASAN AL-QURAN

Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat

Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Penerbit Mizan

Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124

Telp. (022) 700931

Fax. (022) 707038 mailto:mizan@ibm.net

Sumber: media.isnet.org


Blog Entry3 hari 2 malam.Jul 1, '07 10:03 AM
for everyone
Dari Kamis kemarin sampai Sabtu pagi, menginap deh di ruang server (msc) tersebut untuk troubleshoot, repair, fixing. Tanpa membawa jaket, di ruang yg lebih dingin daripada kantor, maklum lah dingin untuk mesin bukan untuk manusia. Tanpa persiapan, jadinya tidak mandi deh selama itu. Tetapi karena dingin ya tidak terasa.

Jadi ingat ada yang mengatakan bahwa orang-orang Eropa utara (Jerman) itu terbiasa jarang mandi. Mungkin karena daerah dingin sehingga nuansa/suasana/rasa untuk mandi itu jadi berkurang bahkan tidak ada sehingga jarang deh mereka mandi.

Dan juga, dulu saya heran, kenapa mereka itu betah memakai kemeja kerja seharian bahkan di luar jam kerja / di rumah. Bisa jadi bahan kemejanya memang enak dipakai. Tapi bisa jadi karena memang hawa dingin yang ada. Saya memakai kemeja selama itu juga masih enak-enak saja. Kalau normalnya sih tidak betah.

 

Kaget juga saya membaca berita lewat Herr Wikan dan dari milist. Teringat kembali ketika bertemu dengan beliau berkemeja lengan pendek dikeluarkan yang berwarna cerah polos sebagaimana warna celana panjangnya, terlihat dan terasa bersahaya dan bersahabat sebagaimana senyum khasnya yang sepertinya selalu saya lihat jika bertemu. Dan ini tulisan dari seorang pembimbing saya waktu mengerjakan tugas akhir, :

From: Armein Z. R. Langi

Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih.
In memoriam Prof. Samaun Samadikun, 1931-2006

Rabu 15 November 2006, sms dari Irman Idris mengabarkan wafatnya Prof. Samaun Samadikun. Saya tidak bisa berbohong. Dalam hati kecil ada rasa terimakasih, beliau sudah bisa beristirahat di pelukan Sang Pencipta. Kesakitan dan penderitaan fisiknya akibat berbagai pengobatan sudah berakhir.

Kami berangkat sore itu menuju rumah duka di Kebayoran Baru. Saya memacu kendaraan merah saya, mencoba meninggalkan mobil biru. Tapi Kastam Astami di mobil biru tidak bergeming, terus mengekori mobil merah. Mobil lain yang dikendarai Adi Indrayanto dan Trio Adiono segera tertinggal jauh, entah belok ke mana dulu mereka itu... Kastam sebenarnya tidak pernah suka berkendaraan keluar kota, apalagi ke Jakarta. Tapi hari ini kita akan melihat beliau untuk terakhir kali. Mervin Hutabarat
berkomentar, berapa banyak yang akan berusaha melawat kita seperti ini nanti ya... OK, belum waktunya bersedih. Kami perlu tertawa sekarang. We need these laughters for the things to come...

Semua orang tersenyum saat melawat di rumah duka. Jangankan yang melawat. Yang dilawatpun tersenyum. Semua tenang, seperti sedang menyiapkan diri . Semua sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi hari-hari esok. Hari-hari saat kesadaran penuh menerjang. Saat kehilangan beliau betul-betul merasuk....

Semua bercengkerama santai. Irman Idris tersenyum bangga karena ia sempat memandikan beliau. Ah seperti yang tidak tahu saja, semua iri dengan Irman, anak kesayangan beliau. Bagaimana tidak, pak Samaun licik nih, menghabiskan waktu terbanyak dengan Irman. Mata Irman merah. Ah rasakan, ini belum apa-apa, golden boy, tunggu minggu depan setelah semua tenang.

Malam itu, saya, Mervin Hutabarat, dan Rio Seto berhenti di warung Cipularang. Kami pesan kopi, karena hari sudah terlalu larut. Dengan sigap anak muda pelayan warung mengaduk kopi kami. Ah, tahukah engkau bahwa hari ini seorang mahaputera telah pergi? Tujuhpuluh lima tahun ia berjuang supaya anak mu menjadi orang pintar dan merdeka. Dan tidak lagi harus berjualan kopi tengah malam di tengah jalan tol begini.

Mana bisa menulis tentang orang besar ini? Kata-kata yang dipilih tidak akan cukup dan tidak akan adil. Toh anak-anak didiknya harus memulai. Budi Rahardjo mencoba mengirim email pagi itu. Ah, blogger nomer wahid di tanah air tidak mampu melawan kepedihannya. Kata-katanya terhenti. Onno Purbo banting setir dan menulis wikipedia. Excellent idea, Onno. Diapun tidak sanggup meneruskannya. Siapa memangnya yang sanggup? Tidak heran, banyak memilih diam...

Arak-arakan kuda perang bergemuruh. Menaiki gunung dan menuruni lembah. Sang panglima dengan gagah berani menerjang di ujung terdepan. Ia menyatakan perang pada keterbelakangan. Ia memusuhi ketertinggalan. Silicon Valley harus berdiri di Bandung. Mikroelektronika harus mensejahterakan rakyat. Rakyat harus mendapat lapangan kerja dari teknologi ini.

Ah, deru perang membahana. Apa kita bisa? tanya bala tentaranya. Ini teknologi tinggi. Panglima ini Doktor dari Stanford, berguru langsung pada penemu transistor. Ia penerima royalti dari panten nya di Amerika. Ia penulis di jurnal Nature. Jadi kalau dia bilang bisa, ya bisa... Sang panglima hanya tersenyum, mengangkat senjatanya, dan memacu kuda nya. Ikut aku, bila ada yang harus berkorban, akulah yang pertama...

September 2006. Perang sedang bergemuruh, dan langit memerah. Hawa Bandung panas. Bala tentara tertegun menegok ke belakang. Mengapa kuda perang sang panglima menyimpang dan menaiki bukit? Dari kejauhan ia melambai. Ia memerintahkan pasukan untuk meneruskan peperangan, tapi semua diam dan menatap nanar. Sang panglima sedang menapaki gunung keagungan. Gunung Sang Pencipta, Gunung Sang Panglima Yang Maha Tinggi. Tidak ada kata yang terucap. Semua mengerti, tidak lama lagi ia akan
tiba di pucak. Tugas nya sudah akan berakhir. Markas Besar sudah mulai memanggilnya pulang....

November 2006. Satu per satu jubah kebesarannya tertanggalkan. Di rumah sakit MMC, kondisi fisik beliau menurun. Saya tahu dari pak Suhartono bahwa Eniman Yunus dan prof Adang Suwandi membawa rombongan STEI menjenguk beliau. Saya harus ikut! Kebetulan Budi Rahardjo dan Pak Merati bisa mengantarkan kami ke sana sekaligus menjenguk. Wah prof Samaun, insinyur sejati. Dalam kesakitannya, masih juga ia minta Prof. Soegijardjo untuk mendesain alat untuk tempat tidurnya. Memang ada pak Sukrisno dan Pak Sarwoko di situ yang bisa mewujudkannya. Tapi yah, kami semua tidak mau banyak bicara, panglima harus istirahat. "Take good care of your health", katanya sambil menyalami saya. Dua kali dia berpesan seperti itu, so I better listen. "I will be watching you form above.." katanya tersenyum. Budi tidak terima, dan dengan cepat menukas, "tidak pak, kami tunggu makan tiap selasa siang di PAU..!" Rupanya itu percakapan terakhir...

Di puncak itu ada salju putih. Jubah kebesaran di puncak adalah jubah putih. Jubah kesederhanaan. Ah, ia sudah menggunakan jubah kesahajaan ini sejak muda. Ia tahu semua pasukan balatentara memimpikan emas permata. Ia tersenyum. Ya tentu, tidak ada yang lebih membahgiakannya daripada melihat semua orang sejahtera. That is the whole idea of this war.

Hmm, is it? Mengapa bapak suka dengan kemeja putih? Gunung-gunung sudah bapak lewati. Banyak gunung penuh intan permata. Direktur Sarana Akademis. Dirjen di Departemen Tambang dan Energi. Ketua LIPI. Direktur PAU-ME.. ok yang ini saya tahu salah-salah bapak bisa tekor, tapi yang lain itu bukan saja basah... tsunami, pak... Bukan saja kecipratan, bapak menghindarpun akan basah kuyup.

Tapi kita tahu apa? Soal kaya raya, pak Samaun yang paling tahu. Ketika beliau lulus di Stanford, Silicon Valley baru mulai. Kalau ia mau, kaya rayalah beliau di Silicon Valley. Tapi ia memutuskan untuk pulang dan membangun ITB. Buat beliau, memperkaya bangsa itu jauh lebih penting daripada memperkaya diri sendiri. Oh boy, how he has lived through this credo...

Coba saja datang ke rumah Pak Samaun. Lihat sendiri kebersahajaan beliau. Lihat sendiri dindingnya. Lihat sendiri kursi tamu nya. Lihat sendiri rak buku nya. Lihat sendiri lah... If you ever need to preach about living full of integrity, just visit his house for five minutes folks!

Tahu tidak, pak Samaun itu selalu mempersilahkan orang lain duluan naik lift? Bila berpapasan di lorong, ia menepi duluan. (Saya juga begitu pak, tapi lebih karena takut kecopetan.) Betapa santun nya pak Samaun ini. Orang kecil pun ia hormati. Di istana atau di kantin mahasiswa, pak Samaun memperlakukan orang sama. Sepanjang hidup saya, tidak pernah sekalipun saya mendengar ia menjelekkan orang lain. Either you believe me or not, I don't really care.. pokoknya tidak pernah.

Bahkan kami dimarahi habis waktu menggosipi dosen yang sibuk cari uang dengan mengajar sana-sini. Pertama: pendidik itu tidak boleh diketawai. Bisa saja dia mengajar karena mencintai murid-muridnya. Kedua: boleh dong tidak seragam di ITB ini. Apa hak kita untuk membuat orang lain sama dengan kita? We felt so stupid.

Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat. Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang lain.

Ini rahasia ya, punten, ketika Prof Samaun harus dibedah di Perth, beliau butuh USD 25,000. Saya tahu persis pihak keluarga bingung karena tidak ada dana. Prof. Adang dan Prof Ilse membuka rekening dana kesehatan untuk beliau pada suatu siang. Wah, belum sempat sore, dalam hitungan jam, rekening itu sudah berisi lebih dari Rp 250 juta! Pada
saat mereka meminta untuk menghentikan pengiriman dana, dana sudah mencapai Rp. 400 juta lebih. Pelajaran berharga tentang makna kekayaan!

Ketika ada staf kami kehabisan beasiswa, beliau meminta kita menggunakan sisa dana kesehatan ini. Wah, no way pak, ini persembahan orang untuk kesehatan bapak. He was not very happy, but nothing he could do, karena dulu dia sendiri yang memaksa agar rekening itu tetap dipegang PAU.

Betapa kaya nya Prof Samaun. Semua membantu beliau dengan diam-diam. Biaya obat dan masuk rumah sakit konon tahu beres. Sya tidak pernah tahu. Semua mencintai beliau. Semua meninggalkan rumah untuk melawat rumah duka. Semua sembunyi-sembunyi meneteskan air mata. Semua bertekad meneruskan cita-cita beliau. Ia menginginkan intan permata buat semua. Tapi, ia memberi contoh kekayaan yang sebenarnya. Ah, sang mahaguru, dari liang lahat sekalipun masih juga kami diajari....

Kabar gembira. Pemakaman dipindah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata! Ah, betapa senangnya hati ini. Akhirnya ada juga kebaikan bangsa ini kepada seorang mahaputera. Seperti biasa, saya tidak pernah tahu apa yang terjadi. Mesti ada yang menyayangi beliau dan diam-diam mengurusinya. Terimakasih. .. Terimakasih. ...

Di ufuk barat awan kembali memerah... Dari kejauhan ia melambaikan tangannya. Balatentara melambaikan penghormatan pada panglima besar. Perang melawan kemiskinan belum selesai, tapi tugas panglima sudah selesai. Sang panglima sudah kembali menghadap Yang Maha Tinggi, tegap melaporkan pelaksanaan tugas-tugasnya di medan perang. Ah, Ia sudah menapaki puncak bersalju itu. Puncak kebesaran dalam kesahajaan. Ia sudah tiba di sana... panglima kita sudah tiba di sana...

Siapa bilang Tuhan tidak mengasihi bangsa kita. Tuhan maha baik, telah mengirimkan pada kita seorang mahaguru. Tuhan sungguh baik. Selama 75 tahun Ia memberikan pada bangsa ini seorang mahaputera yang mencintai bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya.

Oktober 2004, prof Samaun tergesa-gesa mendatangani saya. Kamu punya eulogy untuk Prof. Kudrat bagus sekali. Aduh, dari matanya ia seperti bertanya: what are you going to write about me? Shut, I am trapped, nih. Betul kan, seminggu setelah beliau wafat, tidak ada yang bisa ditulis. Mau tulis apa? Wong konsentrasi kerja saja susah payah begini. Setiap kata pertama ditulis, pandangan jadi kabur karena airmata tidak mau
kompromi.

Baiklah, saya kira yang bisa saya tulis untuk bapak adalah doa syukur, terimakasih Tuhan, karena kami sudah diberi Prof Samaun Samadikun.
Terimakasih Tuhan, terimakasih. ..

Bandung, 20 November 2006.
AZRL



Semoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya, dan mendapatkan
ganjaran yg baik & setimpal, amin!
Dan semoga semua mantan muridnya, apalagi yang dibimbingnya selama di kampus, dapat meneruskan langkah2nya. Amin.
Dari hal-hal kecil pribadi sampai yang besar meluas dalam ruang dan waktu, kami belajar banyak dari bapak. Terima kasih sekali, pak.
Selamat jalan pak.


Blog EntryPahlawan? Hari?Nov 10, '06 11:15 PM
for everyone
Allahu Akbar!


Tadi saya shalat Jumat di Dephan, dan penceramahnya bercerita tentang pak Dirman. Ketika tentara Belanda menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Panglima Besar Jenderal Soedirman baru saja dioperasi paru-parunya sehingga hanya tinggal satu saja dan masih lemah. Karena mendengar dentuman dan ledakan serta pesawat-pesawat melintas, dengan bergegas pak Dirman mencoba untuk berdiri, bersiap, dan menuju istana negara. Ketika bertemu presiden Soekarno, ia memberikan kesiapannya untuk memimpin TNI dan kembali ke tengah pasukan/para prajurit. Bung Karno berkata, "Dimas [panggilan akrab untuk pak Dirman] istirahat saja dahulu karena masih sakit". Pak Dirman menjawab, "Soedirman memang sakit, tetapi panglima TNI tidak boleh sakit". Dan bung Karno tak dapat mencegah lebih lanjut, dan sejarah mencatat pak Dirman bergerilya dengan ditandu, bukan berbaring di rumah....

Dalam kejadian di Somalia 1993, terlepas dari hal-hal yang pro dan kontra, di mana 18 prajurit AS tewas. Dari 18 yang tewas itu hanya 2 yang mendapat medal of honour, itu dikarenakan 2 orang itu memberikan lebih dari yang diharuskan/diperintahkan. (At the second crash site, two Delta Force snipers, SFC Randy Shughart and MSG Gary Gordon, were inserted by helicopter (at their own request, permission was denied twice by Command but granted when they persisted and made a third request) to protect the injured crew from the approaching mob. Link).

Dulu pernah baca sekilas kata2 depan buku "Bukan di Negeri Dongeng" yang mengungkapkan bahwa betapa susahnya cari pahlawan atau orang yang sangat baik di sekitar kita. Hmm saya sempat berkomentar bahwa bisa benar dan bisa tidak, karena bisa saja justru ada di antara kita hanya saja tidak disadari atau terdeteksi oleh kita. Kalau dalam TNI, semakin hebat kemampuan seorang tentara maka akan terlihat pada bajunya seberapa banyak brevet atau tab yang ada. Raider yang berkemampuan 3 kali kemampuan infanteri biasa, punya sekian brevet. Meningkat lagi jumlahnya pada Kopassus, Kopaska, Taifib Marinir, dan Korpaskhas. Tapi ternyata kemudian yang lebih elit lagi malah tidak ada brevet dan malah tidak ada tanda-tanda khusus atau berpakaian seperti orang-orang kebanyakan atau umum. Malah, yang terakhir ini kalau bertugas, kesuksesannya itu malah ada yang ditutupi seperti tidak ada apa-apa sama sekali, kehidupan masyarakat umum berjalan seperti biasa. Hmm...

Cepat, Senyap, tepat.

Di TransTV tadi ada film "Tears of The Sun", terlepas dari pro dan kontra, saat akhir film ada kata-kata; "The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. - Edmund Burke ".

Pahlawan....
Di mana kah kau berada?
Apakah kau enggan? Segan? Bahkan hanya bayangan? Angan?
Ataukah aku yang tak merasa?
Bahwa kau sudah berada di lingkungan?
Ataukah sudah ada dalam diri ini tinggal dibuka saja?
Atau kah.....? Atau kah.....?
Entah lah....
Bingung, lelah.

---------------------------------------------
PFC Downey: I don't understand. Colonel Jessep said he ordered the Code Red. What did we do wrong?
Galloway: It's not that simple.
PFC Downey: What did we do wrong?! We did nothing wrong!
Lance Cpl. Dawson: ...yeah we did. We were supposed to fight for people who couldn't fight for themselves. We were supposed to fight for Willy.
Kaffee: Harold. You don't need to wear a badge on your arm to have Honor.
Lance Cpl. Dawson: Ten-Hut! There's an officer on deck.
From "A Few Good Men"


Blog Entry[DRAFT] mendaftar kursus bahasaNov 6, '06 8:56 PM
for everyone

Blog EntryPersonality testOct 13, '06 11:17 AM
for everyone
Setelah lihat dari elbintang, saya ingin mencoba. Dan hasilnya...

ISTJ -  "Trustee". Decisiveness in practical affairs. Guardian of time- honored institutions. Dependable. 11.6% of total population.
Free Jung Personality Test (similar to Myers-Briggs/MBTI)

DDLI :

Please bear in mind that the DDLI does not tell you what your type is. It merely indicates what might be your type with some degree of probability. Do not take your results on the DDLI as the final word on what your type is. With that said, here are your results:

teguh's scores on the main set of questions:

Extraversion (E):  10     15 :(I) Introversion
Sensing (S): 16 0 :(N) iNtuition
Thinking (T): 25 6 :(F) Feeling
Judging (J): 26 20 :(P) Perceiving

You scored as an ISTJ.

Assuming that you are an ISTJ,
Your DOMINANT function is Introverted Sensing.
Your AUXILIARY function is Extraverted Thinking.
Your TERTIARY function is Introverted Feeling.
Your INFERIOR function is Extraverted Intuition.

Please bear in mind that the supplementary questions are experimental and may be highly unreliable. If these scores conflict with your previous scores, it is probably because the questions are still not reliable enough.

teguh's scores on the supplementary questions:

Extraverted Thinking / Introverted Feeling   : 4
Extraverted Feeling / Introverted Thinking : 16

Extraverted Intuition / Introverted Sensing : 20
Extraverted Sensing / Introverted Intuition : 11

Rationality (Dominant Judging Function) : 15
A-rationality (Dominant Perceiving Function) : 5

According to the supplementary scores, tgh could be an ESFJ or an INTP. These are opposite types, because the supplementary questions measure for preferences that opposite types share in common. See the FAQ for an explanation.

These results conflict with the evaluation of tgh as an ISTJ.



Blog EntryKisah Teriakan "Ganyang HMI" di Pagi ButaOct 3, '06 8:18 AM
for everyone
Link

Tawuran karena ideologi? Hmm ini ideologinya yang memang mengajarkan tawuran atau penganutnya saja yang suka tawuran? Kalo penganutnya saja, berarti memang masih butuh pendidikan dong ya? Nah kalo ternyata ideologinya memang mengajarkan tawuran? Wah wah wah.... hari geneee?

Sebuah ideologi bersifat laten dan tak akan pernah mati? Ini karena ideologinya yang memang begitu atau kah ada orang2 yang memang ingin mencobanya saja ya alias merasa ideologi-ideologi yang ada itu tidak bisa menampungnya sehingga menghidupkan kembali ideologi itu? Tetapi dengan adanya keterbatasan pada manusia - misalnya dalam mencapai kebenaran yang sangat tinggi - sepertinya memang benar bahwa yang namanya ideologi itu tidak akan pernah mati, paling tidak ya mati suri, menunggu ada yang memilih dan membangkitkannya lagi.



Blog EntryKrenyit piluJun 14, '06 9:01 PM
for everyone
Pikiran Rakyat:

Galamedia

Detik.com

Selasa, 13/06/2006Rabu, 14/06/2006Kamis, 15/06/2006Jumat, 16/06/2006Sabtu, 17/06/2006Ahad, 18/06/2006
Senin, 19/06/2006Selasa, 20/06/2006Rabu, 21/06/2006Senin, 26/06/2006 16:11 WIB Aktivitas Aniek, Mandi Hingga Makan Diawasi Tim Psikiater

Senin, 18/09/2006 Senin, 25/09/2006
Banjarmasin Post: Saya Sempat Memandikan Mereka Rabu, 14 Juni 2006 03:34:05
Tribun Batam: Anak-anak itu Mati Lemas 14 Juni 2006
Republika: Kasih Ibu Berujung Petaka Kamis, 15 Juni 2006
Kompas: Depresi, Nyawa Tiga Anak Melayang Rabu, 21 Juni 2006, 07:06 WIB


Perasaan saya mengharubiru, walau saya tidak dekat sekali. Apalagi teman-teman saya yang dekat sekali dengan mereka. Untuk jurnal ini, saya tidak banyak komentar. Saya cukupkan dengan link-link berita saja. Jika pun ada yang ingin saya tulis, itu akan ada di jurnal lain, tidak di halaman ini.

Ada sangat banyak yang bisa diambil dari peristiwa2 ini. Apalagi soal agama dan semangat beragama. Semoga kita semua bisa lebih baik lagi.

In Harmonia Progressio

Catatan: Sebagian judul untuk link-link di atas telah saya ubah sedikit dari judul asli.


Blog EntryLangkahMay 12, '06 5:22 AM
for everyone
Jika malas mendera, berhenti sejenak dan cari lah asa.
Jika rasa dan asa tertemui, maka jalan jadi mudah dilangkahi.
Menengok ke belakang, agar tak lagi jadi penghalang.
Selamat berjalan, semoga Allah berkenan.
Amin.



Blog EntryNever Grow Up, My FriendsMay 10, '06 10:33 AM
for everyone
The Spot: A burly, bearded man with an accent sits at a video-editing console. He cues up some old footage of a little kid playing soccer. Then he intercuts this with modern-day scenes of the kid all grown up, still playing soccer. Kid and man both execute some astonishing moves, bewildering their opponents and scoring goals at will. "So my advice to you," says the bearded man, "is never grow up, my friends." As the spot ends, we see the words "Joga Bonito" and a Nike swoosh. (Click here and mouse over the right-hand side of the screen to see the ad, called "RonaldinhoJoy.")

Di TV, ada iklan Nike, yang memperlihatkan Ronaldinho [tahu kan? kalo ga, tanya tetangga sebelah yg suka sepakbola ya! hehehe] ketika kecil bermain futsal dan saat sekarang menjadi pemain sepakbola Internasional. Diperlihatkan betapa Ronaldinho kecil begitu antusias dgn futsal dan memperlihatkan permainan yg mengagumkan, begitu pula ketika sudah menjadi pemain Internasional. Dan di akhir iklan, ada kata2 "never grow up". Wah..... Merasuk pikiran/hati/qolbu...

Sifat anak2 tida